Hakekat Sifat Sabar dan Tahan Uji

Posted: Agustus 22, 2010 in Uncategorized

Saudaraku seiman, setiap dari kita baik dia kaya, miskin, papah, cacat, sehat, sakit, dari golongan yang rendah ataupun yang berpangkat dan yang tidak berpangkat, beriman ataupun dia kafir sekalipun selama masih hidup di dunia maka tidaklah seseorang luput dari ujian.

Semenjak kita menghembuskan nafas pertama kita didunia maka dimulailah perang antara diri kita sendiri yaitu nafsu dan juga godaan syaitan.

Sebelum kita terlahir, setiap individu telah disusun dan diatur skema perjalanan hidupnya masing-masing, Allah SWT telah menyusun skenario untuk kita perankan, seperti halnya apakah dia miskin atau kaya, apakah dia terlahir dalam keadaan cacat, siapa yang dia temui dalam kehidupannya, apa pekerjaanya, siapa pasangan hidupnya, dari keluarga mana ia terlahir dan dimana ia mati.

Bahkan pada saat kita berjalan ditengah guyuran hujan Allah telah mengatur air hujan mana yang jadi jodoh kita, yang melekat pada baju atau tubuh kita dan TIDAK AKAN MUNGKIN ada air hujan yang ditakdirkan menyentuh kita tetapi menyalahi aturannya.

Dunia bisa menjadi ladang amal tetapi juga bisa menjadi pintu gerbang kehancuran seorang manusia. karena rezeki yang melimpah, kemiskinan yang meradang, keletihan dalam pekerjaan, penyakit yang tidak kunjung sembuh, kesusahan yang tidak berujung, kesedihan akan kehilangan seseorang yang kita cintai, gangguan secara langsung atau tidak langusng dari orang lain, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuk kita, itu semua datangnya dari Allah.

Dan itu adalah sesuatu hal yang WAJIB kita Imani karena Allah SWT menyatakan.
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” Al An’am :59

Semua ujian yang Allah tujukan kepada kita tentunya bukan tanpa maksud, karena Allah SWT menguji kita untuk mengetahui seberapa besar peranan Allah dalam kehidupan dan fikiran kita. Apakah kita benar-benar melibatkan Allah dalam kehidupan kita atau tidak.

Ketika seseorang ditimpa musibah, apakah ia redho ataukah berkeluh kesah atau malah mencari “kambing hitam” akan musibah yang dialaminya.

Seseorang yang ada “Iman” dalam dirinya maka ketika tertusuk duri dijalan maka spontanpun ia akan ingat Allah sambil mengingat akan kesalahan yang pernah ia lakukan dan bersyukur karena dengan adanya duri yang menusuk kakinya maka Allah hapuskan akan dosanya.

Sebaliknya orang yang tidak ada “Iman” dalam dirinya ia akan sibuk mencari-cari kesalahan orang disekitarnya, maka iapun tidak mendapat apa-apa dari ujian yang diberikan malah mungkin akan berdosa karena telah berburuk sangka atau bahkan memfitnah orang lain.

Semua ini adalah panggung sandiwara, keluarga adalah titipan, rumah adalah titipan, istri dan anak-anak adalah titipan bahkan mungkin sumber malapetaka bagi kita jika tidak dijaga amanah dari Allah dengan sebaik-baiknya.

Uang yang kita pegang detik ini belum tentu adalah milik kita, harta yang kita usahakanpun belum tentu kepunyaan kita, bahkan tidak sedikit seseorang yang bekerja membanting tulang memperkaya diri membangun rumah yang mewah tetapi tidak mempunyai waktu untuk menikmati hasil kerjanya hingga pada akhirnya sang pembantu penjaga rumah yang akhirnya menikmati semua fasilitas kemewahan yang siang malam tuannya cari.

Setiap ujian yang Allah SWT berikan kepada kita akan mudah kita jalani apabila kita senantiasa membaca dan memahami skrip dari apa peran yang kita mainkan karena Rasulullah sabdakan,
“Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang (selama kalian berpegang teguh dengan keduanya) kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan Sunnah-ku.” Diriwayatkan oleh Hakim (I/172).

Untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan ujian maka kita butuh petunjuk bagaimana cara menghadapi dan menjalankan setiap ujian, dan yang menjadi kunci akan semua itu adalah sifat sabar.

Sifat sabar adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli, sabar adalah sifat yang kita usahakan dan kita mohon kepada Allah agar diberikan kepada kita.

Sabar menurut bahasa adalah menahan. Adapun secara syar’i, maknanya adalah menahan diri dalam tiga perkara:
– Yang pertama, taat kepada ALLAH dalam menjalankan perintahNya.
– Yang kedua, menahan diri dari hal-hal yang Allah tidak senangi.
– Yang ketiga, menahan diri terhadap takdir ALLAH yang menyakitkan.

Allah tidak senang dengan orang yang tidak sabar, karena orang yang tidak sabar maka sesuatu yang dikerjakanpun akan berbuah ke-tidakikhlasan dan apabila sesuatu amal atau perbuatan tidak dikerjakan dengan ikhlas maka tidak akan menjadi pahala dan tidak akan membawa manfaat bagi diri kita.
“orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.”
(Huud :11).

Allah senang dengan orang yang senantiasa bersabar, sebagaimana pernyataan Allah,
“sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(Al Baqarah :153).

” dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al Baqarah :177).

Sabar bukan berarti lemah, karena dengan adanya sifat sabar akan mendatangkan pertolongan Allah,
“Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Anfaal :66).

Berbeda dengan orang non Muslim, apabila seorang Muslim bersabar maka akan mendapat pahala tapi bagi mereka (non muslim) tidak mendapatkan apa-apa,
“Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhari no. 5641)

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika mendapatkan kelapangan ia bersyukur, maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kemudaratan/kesusahan1 ia bersabar, maka yang demikian itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 7425)

Semoga kita senantiasa diberikan hakekat sifat sabar dan tahan uji, untuk artikel sabar ini sebenarnya masih sangat panjang akan penjelasan dan maknanya tapi karena keterbatasan pesan oleh Admin FB maka Insya Allah akan dilanjutkan pada pesan berikutnya.

Semoga bisa kita amalkan dan sampaikan, ada benarnya datangnya dari Allah dan adapun kesalahan pada artikel ini dikarenakan karena keterbatasan ilmu dan kebodohan saya sendiri.
Jazakumullah Akhsanul Jazza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s